kuasa pelayanan
Jun 1st, 2009 by Sade
Kisah Para Rasul 1:6-11

Ketika murid-murid bertanya, “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” dan kemudian dijawab oleh Yesus, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktunya…,” Yesus tidak mengatakan bahwa ia tak akan memulihkan kerajaan Israel. Yang Ia maksud ialah perihal waktu dan masa tak seharusnya menjadi concern kamu. Itu urusan Bapa yang satu-satunya berotoritas menentukan. Bapa di surga yang mengatur semuanya, serahkanlah pada-Nya.
Yesus tentu saja akan memulihkan kerajaan Israel, walau tak harus sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Umat Allah akan memerintah bersama dengan Kristus, benar, namun dengan cara Kristus memerintah. Bukan dengan force atau tangan besi, tetapi dengan kasih, mercy, dan pengampunan. Hidup kita sekarang merupakan antisipasi kerajaan Kristus tersebut.
Perhatikan ayat 8, kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atasmu. Kata ‘kuasa’ dalam ayat ini berasal dari kata ‘dunamis,’ yang darinya kita mendapatkan kata ‘dynamite,’ suatu ledakan besar. Bila dynamite ini meledak, kekuatannya akan bergerak dari lingkar satu ke lingkar berikut, meluas terus hingga meliputi seluruh bumi. Maka, kalimatnya dilanjutkan, kamu akan menjadi saksi-Ku mulai dari kota Yerusalem ke seluruh negeri Yudea dan Samaria (area musuh) dan sampai ke ujung bumi.
Tapi apa yang harus dipersaksikan? Tak lain, the lordship of Christ, apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (kembali ke ayat 1).
Sesudah berkata demikian, Yesus pun naik ke surga, lalu tertutup awan, dan lenyap dari hadapan para murid. Tapi mereka belum mau pergi. Mereka masih menatap ke langit, seperti melamun. Pandangan mereka terfiksasi pada langit.
Sebuah cerita kanak-kanak berbahasa Jerman berjudul Hans guck-in-die-luft (Hans, melihat ke langit) mengilustrasikan apa yang dilakukan oleh para murid di sini. Hans ialah seorang bocah yang suka berjalan sambil menatap ke langit, melihat burung beterbangan di angkasa, memandangi ujung-ujung pohon, sehingga ia seringkali menabrak lampu jalanan, nenek-nenek, dan lain-lain. Orang-orang dewasa yang mengenal Hans telah berkali-kali coba menasihatinya agar ia jangan melamun di jalan. Kalau berjalan, lihatlah ke depan. Tapi ia tak mau berubah, tetap berjalan sambil menatap ke langit. Long story short, cerita ini berakhir dengan memilukan. Suatu hari ia masuk ke jurang dan mati. Saya bisa membayangkan betapa keras cerita ini berbicara pada anak-anak. Meski begitu, Hans merupakan ilustrasi yang baik untuk memperjelas maksud teguran dari dua malaikat kepada para murid di ayat 11.
Dua malaikat itu, oleh Lukas disebut dua orang berpakaian putih, mungkin malaikat yang sama yang bersaksi di kubur kosong. Perhatikan, makhluk surgawi ini berdiri di dekat mereka, berpijak di bumi. Mereka menegur murid-murid, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus yang naik dalam kemuliaan, akan datang kembali ke bumi juga dalam kemuliaan. So be prepared! You have a job to do. Ya, di bumi ini. Oleh karena itu, mereka pun kembali ke Yerusalem, berkumpul, menyembah Allah, serta menambah jumlah mereka yang ganjil (setelah Yudas mati) menjadi genap dua belas.
Nampaknya Tuhan tak peduli mulai dengan berapa banyak orang. Mereka hanya berdua belas, dan Ia memerintahkan mereka untuk bersaksi sampai ke ujung bumi. Dari sini saja kita seharusnya menyadari bahwa gereja tidak didirikan oleh ikhtiar atau ambisi manusia, melainkan oleh kehendak Allah. Yang sungguh menentukan adalah kuasa yang menyertainya. Kuasa yang sanggup mengubahkan hidup manusia.
Tak heran, Paulus berusaha pergi ke kota-kota besar. Seringkali bahkan sendiri. Untuk apa? Untuk membawa Injil Allah ke sana, agar kuasa Allah yang dahsyat juga bisa diledakkan di sana. Ia tak mau sembarangan memakai kuasa ini. Ia tak mau sia-siakan waktu. Karena itu, ia berpikir, ia menyusun strategi.
Terlalu banyak waktu dan energi kita pakai untuk tugas-tugas maintenance. Gereja malas berpikir, malas berencana, terlalu cepat puas dengan apa yang ada.
Saya pribadi tersentak ketika membaca sebuah buku mengenai gereja dan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Selama ini saya berpikir asal kita melayani Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas, komitmen tinggi, Tuhan pasti berkenan. Menjadi pastor memang mau apa lagi? Kita hanya pelayan, bukan? Tapi penulis buku itu mengatakan kira-kira begini, “Kami tidak meminta anda menjadi pekerja lagi, tetapi menjadi director.” Kami membutuhkan direction ke mana gereja seharusnya melangkah.
Tentulah kita membutuhkan pekerja juga. Seandainya semua orang di gereja maunya menjadi pemimpin saja, siapa yang akan mengerjakan tugas sehari-hari. Saya tidak meragukan itu. Yang saya persoalkan ialah kalau semua orang di gereja maunya hanya mengerjakan hal-hal rutin, pendeta dan majelis juga maunya begitu, nggak mau berpikir, nggak bervisi, nggak berusaha menyusun rencana masa depan, lalu gereja siapa yang pimpin? Gereja mau dibawa ke mana? Apakah kita tidak malah merusak pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan-Nya pada kita?
Kawan, memang bekerja mempertahankan yang sudah ada itu nyaman, safe, lagi menyenangkan orang lain. Sebaliknya, memberikan direction, mengadakan perubahan yang necessary, kadang berarti harus mengambil risiko, besar ataupun kecil. Meski demikian, kita harus berani dan siap berjuang, karena dengan begitu kita baru bisa disebut hamba-hamba yang setia. Marilah kita bekerja sesuai dengan karunia dan panggilan kita masing-masing. To God be the glory!
Dua orang sedang menunggu bus lewat. Yang seorang berdiri, lainnya duduk. Tiba-tiba yang pertama lenyap, sedang yang terakhir tinggal. Seorang ayah mengajak putrinya main-main di taman. Tiba-tiba sang putri lenyap, padahal sang ayah sedang memeluknya erat-erat.
Seorang tentara yang baru direkrut suatu hari diberikan tugas jaga pada pukul 2 pagi. Untuk sementara ia berhasil melaksanakan tugas dengan baik, tapi kira-kira 2 jam kemudian ia terlelap. Ketika ia terjaga, seorang pengawas telah berdiri tegap di hadapannya.
kawan-kawan mark tercinta,
. People may then expect certain commitment and competence from a professional. Some of those expectations can be found in the code of ethics of the professions. But all the discussions regarding various ethical dilemmas and their complexities should depart from these promises.
Is it appropriate to see ministry as a profession? Some Christians believe that pastoral ministers are called of God, and therefore it is mistaken to treat them as professional. Others say, “If we ‘professionalize’ ministry, we reduce it to mere administrative work and pay no attention to its spiritual aspect. Ministry is unique; it cannot be compared to other professions.” I find all these beliefs, though not totally false, are at least partially true. My conviction is that pastoral ministry as a spiritual calling and pastoral ministry as a profession complement each other. Furthermore, regarding pastoral ministry as a profession only helps improve the quality of the practice of ministry; it does not bring any disadvantages to it. Along the similar vein, Richard Gula (1996) comments, “It seems to me that we have more to gain than to lose by qualifying pastoral ministry as a profession, by expecting pastoral ministers to act professionally, and by holding them accountable as professionals” (p. 11).

