Feed on
Posts
Comments

kuasa pelayanan

Kisah Para Rasul 1:6-11

Ketika murid-murid bertanya, “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” dan kemudian dijawab oleh Yesus, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktunya…,” Yesus tidak mengatakan bahwa ia tak akan memulihkan kerajaan Israel. Yang Ia maksud ialah perihal waktu dan masa tak seharusnya menjadi concern kamu. Itu urusan Bapa yang satu-satunya berotoritas menentukan. Bapa di surga yang mengatur semuanya, serahkanlah pada-Nya.

Yesus tentu saja akan memulihkan kerajaan Israel, walau tak harus sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Umat Allah akan memerintah bersama dengan Kristus, benar, namun dengan cara Kristus memerintah. Bukan dengan force atau tangan besi, tetapi dengan kasih, mercy, dan pengampunan. Hidup kita sekarang merupakan antisipasi kerajaan Kristus tersebut.

Perhatikan ayat 8, kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atasmu. Kata ‘kuasa’ dalam ayat ini berasal dari kata ‘dunamis,’ yang darinya kita mendapatkan kata ‘dynamite,’ suatu ledakan besar. Bila dynamite ini meledak, kekuatannya akan bergerak dari lingkar satu ke lingkar berikut, meluas terus hingga meliputi seluruh bumi. Maka, kalimatnya dilanjutkan, kamu akan menjadi saksi-Ku mulai dari kota Yerusalem ke seluruh negeri Yudea dan Samaria (area musuh) dan sampai ke ujung bumi.

Tapi apa yang harus dipersaksikan? Tak lain, the lordship of Christ, apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (kembali ke ayat 1).

Sesudah berkata demikian, Yesus pun naik ke surga, lalu tertutup awan, dan lenyap dari hadapan para murid. Tapi mereka belum mau pergi. Mereka masih menatap ke langit, seperti melamun. Pandangan mereka terfiksasi pada langit.

Sebuah cerita kanak-kanak berbahasa Jerman berjudul Hans guck-in-die-luft (Hans, melihat ke langit) mengilustrasikan apa yang dilakukan oleh para murid di sini. Hans ialah seorang bocah yang suka berjalan sambil menatap ke langit, melihat burung beterbangan di angkasa, memandangi ujung-ujung pohon, sehingga ia seringkali menabrak lampu jalanan, nenek-nenek, dan lain-lain. Orang-orang dewasa yang mengenal Hans telah berkali-kali coba menasihatinya agar ia jangan melamun di jalan. Kalau berjalan, lihatlah ke depan. Tapi ia tak mau berubah, tetap berjalan sambil menatap ke langit. Long story short, cerita ini berakhir dengan memilukan. Suatu hari ia masuk ke jurang dan mati. Saya bisa membayangkan betapa keras cerita ini berbicara pada anak-anak. Meski begitu, Hans merupakan ilustrasi yang baik untuk memperjelas maksud teguran dari dua malaikat kepada para murid di ayat 11.

Dua malaikat itu, oleh Lukas disebut dua orang berpakaian putih, mungkin malaikat yang sama yang bersaksi di kubur kosong. Perhatikan, makhluk surgawi ini berdiri di dekat mereka, berpijak di bumi. Mereka menegur murid-murid, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus yang naik dalam kemuliaan, akan datang kembali ke bumi juga dalam kemuliaan. So be prepared! You have a job to do. Ya, di bumi ini. Oleh karena itu, mereka pun kembali ke Yerusalem, berkumpul, menyembah Allah, serta menambah jumlah mereka yang ganjil (setelah Yudas mati) menjadi genap dua belas.

Nampaknya Tuhan tak peduli mulai dengan berapa banyak orang. Mereka hanya berdua belas, dan Ia memerintahkan mereka untuk bersaksi sampai ke ujung bumi. Dari sini saja kita seharusnya menyadari bahwa gereja tidak didirikan oleh ikhtiar atau ambisi manusia, melainkan oleh kehendak Allah. Yang sungguh menentukan adalah kuasa yang menyertainya. Kuasa yang sanggup mengubahkan hidup manusia.

Tak heran, Paulus berusaha pergi ke kota-kota besar. Seringkali bahkan sendiri. Untuk apa? Untuk membawa Injil Allah ke sana, agar kuasa Allah yang dahsyat juga bisa diledakkan di sana. Ia tak mau sembarangan memakai kuasa ini. Ia tak mau sia-siakan waktu. Karena itu, ia berpikir, ia menyusun strategi.

Terlalu banyak waktu dan energi kita pakai untuk tugas-tugas maintenance. Gereja malas berpikir, malas berencana, terlalu cepat puas dengan apa yang ada.

Saya pribadi tersentak ketika membaca sebuah buku mengenai gereja dan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Selama ini saya berpikir asal kita melayani Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas, komitmen tinggi, Tuhan pasti berkenan. Menjadi pastor memang mau apa lagi? Kita hanya pelayan, bukan? Tapi penulis buku itu mengatakan kira-kira begini, “Kami tidak meminta anda menjadi pekerja lagi, tetapi menjadi director.” Kami membutuhkan direction ke mana gereja seharusnya melangkah.

Tentulah kita membutuhkan pekerja juga. Seandainya semua orang di gereja maunya menjadi pemimpin saja, siapa yang akan mengerjakan tugas sehari-hari. Saya tidak meragukan itu. Yang saya persoalkan ialah kalau semua orang di gereja maunya hanya mengerjakan hal-hal rutin, pendeta dan majelis juga maunya begitu, nggak mau berpikir, nggak bervisi, nggak berusaha menyusun rencana masa depan, lalu gereja siapa yang pimpin? Gereja mau dibawa ke mana? Apakah kita tidak malah merusak pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan-Nya pada kita?

Kawan, memang bekerja mempertahankan yang sudah ada itu nyaman, safe, lagi menyenangkan orang lain. Sebaliknya, memberikan direction, mengadakan perubahan yang necessary, kadang berarti harus mengambil risiko, besar ataupun kecil. Meski demikian, kita harus berani dan siap berjuang, karena dengan begitu kita baru bisa disebut hamba-hamba yang setia. Marilah kita bekerja sesuai dengan karunia dan panggilan kita masing-masing. To God be the glory!

giliran jaga

Ini tentang Mark lagi, putra saya yang berusia 21 bulan itu. Setiap kali saya mendapat giliran menjaga dia, ada saja ulahnya yang bikin gregetan. Awalnya ia bersahabat, mau duduk di pangkuan saya sembari menyeruput susu dalam botol. Tapi itu tak bertahan lama. Kira-kira 15-20 menit kemudian, ia sudah minta turun. Setelah diturunkan ia mulai menarik-narik tangan saya, menepak, mengguncang kursi, untuk mengajak saya bermain. “Papa, papa, papa, papa…” ia memanggil terus dengan volume suara yang makin lama makin keras. Kalau sedang banyak pekerjaan, terus terang saya malas meladeni. Saya memilih untuk membaca buku, browsing internet, membalas e-mail, mendengarkan kotbah, dan lain-lain. Tapi Mark bukan seorang anak yang mudah menyerah. Ia selalu punya cara untuk membuat saya berespon kepadanya. Pernah suatu kali, ia sedang bermain sendirian, dan saya tengah asyik bekerja. Saya kira ia akan baik-baik saja. Tapi sontak air susu berceceran di lantai. Bagaimana bisa terjadi? Enggak tahunya air susu yang disedotnya alih-alih ditelan, malah disembur dari mulut. Ceceran air susu itu selanjutnya disapu dengan tangan sehingga menyebar ke mana-mana. Maka spontan saya marah, “Aduh, ngapain kamu, Maaarrkkk!” Namun ia hanya memandang saya dengan tatapan tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia pun masih bisa nyengir, seakan ia berkata, “Siapa suruh Papa cuekin saya, kan tadi sudah saya panggil?”

Saya mencoba memetik pelajaran spiritual dari pengalaman kecil ini. Belakangan saya memang sedang struggle dalam menemukan waktu berdoa, saat bisa ngobrol santai dengan Tuhan tapi tetap mendalam. Oh, saya rindu sekali. Saya bersyukur bahwa Tuhan yang saya kenal bukan papa yang super sibuk sehingga setiap kali memerlukannya saya harus memanggil-manggil dia dengan suara yang keras, atau menarik-narik tangannya yang kaku, menggoyang kursi kenyamanannya, atau bahkan menyembur air susu ke lantai. Tuhanku tak pernah berkata, “Agus, kamu main dulu sendiri yah, aku sedang banyak pekerjaan nih.” Terpujilah Tuhan! Ia tak pernah berbuat begitu pada saya, pada semua anak-Nya. Ia Tuhan yang penuh perhatian; Ia peka pada kebutuhan kita. Padahal urusan Tuhan ada sejagat banyaknya. Sayang, perhatian dan kesudian Tuhan yang luar biasa ini nampaknya masih enggak cukup membuat kita menyadari betapa precious momen kebersamaan dengan-Nya. Kita justru meremehkan. Kawan, jika boleh saya berpesan, ada waktunya untuk bekerja, dan itu baik. Tapi jangan abaikan waktu untuk berdoa dan berbakti pada Tuhan. Bagaimanapun, kita memerlukan keseimbangan hidup.

Sekarang, kalau saya ‘digangguin’ Mark, saya jadi malu sendiri. Itu artinya saya sudah tidak peka pada kebutuhannya. Saya lantas memperingatkan diri sendiri, “Gus, apa kamu lebih banyak urusan daripada Tuhan? Mbok ya giliran jagamu dilakukan dengan baik…”

rapture

Dua orang sedang menunggu bus lewat. Yang seorang berdiri, lainnya duduk. Tiba-tiba yang pertama lenyap, sedang yang terakhir tinggal. Seorang ayah mengajak putrinya main-main di taman. Tiba-tiba sang putri lenyap, padahal sang ayah sedang memeluknya erat-erat.

Apakah anda familiar dengan gambaran ini? Ada tertulis dalam Matius 24:40-42, “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Oleh karena itu, kita dipanggil untuk selalu berjaga-jaga, sebab kapan saja Tuhan bisa datang. Kita harus siap sedia. Jika kita tak siap, kita akan ditinggalkan. Sebaliknya, jika kita siap, kita akan diangkat-Nya.

Kebanyakan orang Kristen percaya pada tafsir demikian. Mereka menyebut peristiwa itu sebagai ‘rapture.’ Tapi familiaritas dan mayoritas tidaklah menjamin kebenaran. Saya harap anda bisa mengerti ini.

Pertanyaannya, apakah rapture merupakan konsep alkitabiah? Jawabnya, tidak. Alkitab tak pernah mengajarkan rapture theology. Ajaran dan tafsir ini pertama kali disampaikan oleh seorang teolog British, John Nelson Darby. Ia kemudian dianggap sebagai bapak dispensasionalisme. Sayangnya, pandangan Darby telah menyesatkan banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen menjadi setia, tapi bukan karena kasih kepada Allah, melainkan karena takut ditinggalkan (left behind) dan mengalami aniaya.

Matius 24 jelas tidak berbicara mengenai rapture (pengangkatan). Silakan anda baca lagi pasal tersebut dengan baik, lalu bandingkan dengan Markus 13. Konteks dari Matius 24 adalah keruntuhan bait Allah. Di sana Yesus dan murid-murid sedang mempercakapkan bait Allah yang dibangun kembali oleh Herodes. Murid-murid kagum. Tapi Yesus mengatakan bahwa nanti semua itu akan diruntuhkan hingga rata dengan tanah. Kapankah terjadinya? Ketika perang Romawi-Yahudi tahun 70 AD. Pada waktu itu sejarah mencatat bahwa Bait Allah diruntuhkan oleh penjajah Romawi. Jadi, Yesus sebenarnya menubuatkan kehancuran bangsa Israel. Mereka tengah berada di bawah penghakiman Allah.

Nah, dalam situasi perang tentulah setiap orang harus bersiap sedia untuk kabur dan menyelamatkan diri. Tuhan Yesus menyarankan itu. Dengan mempelajari konteks naratif dan sejarah alkitabiah, kita akan memahami nubuat Yesus bertolak belakang dengan paham rapture.

Bagi rapture theology yang diangkat selamat; yang ditinggalkan celaka. Berdasarkan pembacaan alkitabiah, yang diangkat (diciduk, ditangkap oleh tentara Romawi) celaka, sedang yang ditinggalkan justru selamat. At the time nobody knew what’s going to happen to anybody.

Di bawah ini anda bisa menyaksikan interview dengan Barbara Rossing, seorang New Testament Scholar, Debungking the Rapture. Menurut saya sangat bagus dan mencerahkan.

berdahak

Dulu waktu gw masih di bangku SMP, ada guru namanya Ibu T yang sebentar-sebentar mendahak. Shroottt, lalu, ciuh… Untunglah ciuhnya di luar sana, di tong sampah. Tapi tetap aja nariknya itu di depan kita-kita. Gw mikir ini guru kok nggak malu-malu yak. Apa sebelumnya pernah merasa malu, tapi karena udah keseringan, maka malu pun sirna? pokoknya, ia kita gosipin deh.

Sekarang gw – sebenarnya sudah beberapa hari ini – lagi menderita pilek dan batuk berdahak. Gw juga sebentar-sebentar mendahak seperti Ibu T. Kalau dipikir-pikir memang tindakan tersebut menjijikkan. Tapi apa boleh buat, I have no choice. Dibuang sekali nggak akan cukup. Lender-lendir itu bakalan muncul lagi, muncul lagi, seakan berproduksi tanpa henti. Masa mau ditelan aja lender-lendir itu? Apa, kalau begitu, nggak lebih menjijikkan? Gw sih memilih mengeluarkannya.

Hikmah: Makanya, jadi orang jangan cepat-cepat kita omongin keburukan orang lain. Diet-lah berkata-kata hingga kita cukup arif untuk bisa memahaminya. Blessings in the Lord.

nostalgia

Kucari gambar hati di langit yang pernah kuukir dulu. Ah, kau masih juga di sana.

amen!

mark, putra saya, sekarang berumur 20 bulan. setiap kali waktu makan kami mengajak ia berdoa. mata dipejam, tangan dilipat, mulut mengucap berkat. doa ditutup dengan kata ‘amen.’ Ia tentu saja belum mengerti apa yang kami katakan dalam doa. Yang ia pelajari baru gesture doa dan kata akhir ‘amen’ itu.

pada suatu hari kami pergi ke sebuah restoran. sehabis memesan makanan, sedang kami menunggu, mark menoleh ke kanan, ke kiri. maklum anak-anak, nggak bisa diam. tak begitu lama, ia temukan ada orang di seberang lagi menunduk di depan makanan. nampaknya, ia kira orang itu sedang berdoa. maka, spontan ia pun berteriak nyaring, ‘AM-MENN.’

untunglah orang itu nggak sadar. mark, mark…

ada apa dengan buku-bukuku

Pernah terjadi di salah satu hari di musim panas tahun lalu, buku-buku dalam rak bukuku melakukan protes. Mereka tak mau lagi diambil lebih-lebih dibaca. Ada yang selalu menghindar ketika mau ditarik. Ada juga yang sengaja menjatuhkan diri ke lantai. Untuk mencari jalan keluar, aku menawarkan jalur dialog. Pakai teknik mendengarkan dan empati yang pernah kupelajari di kampus dulu. Akhirnya aku tahu, permintaan mereka sebenarnya tidak aneh-aneh: cinta yang tak bersyarat.

tertangkap basah

Seorang tentara yang baru direkrut suatu hari diberikan tugas jaga pada pukul 2 pagi. Untuk sementara ia berhasil melaksanakan tugas dengan baik, tapi kira-kira 2 jam kemudian ia terlelap. Ketika ia terjaga, seorang pengawas telah berdiri tegap di hadapannya.

Menyadari betapa berat penalti bagi petugas jaga yang tertidur, pemuda cerdik ini tetap menundukkan kepalanya beberapa saat lagi. Lalu, dengan menengadah ke langit dan dengan khidmat, ia berkata, “A-a-a-min!” (sumber: bnet)

Saya jadi ingat pada orang-orang yang sepanjang penyampaian kotbah di gereja memejamkan mata mereka sambil manggut-manggut sesekali atau yang tertunduk saja entah mencari apa di bawah. Sempat saya berpikir untuk memergoki salah satu dari mereka, menepuk bahunya, atau berbuat apalah yang bisa membuatnya terjaga, dan salah tingkah. Tapi setelah membaca cerita ini, saya memutuskan untuk mengurungkan niat itu. Saya khawatir jika melakukannya, saya bisa dituduh mengganggu orang sedang berdoa. Dan itu tidak baik, apalagi saya seorang pastor…

lapar

Seorang wartawan British mengunjungi kamp penampungan di Ethiopia pada tahun 1985. Berikut reportasenya.

Inilah yang terjadi kalau anda menderita kelaparan sampai mati: pertama-tama anda merasa lapar dan ingin sekali makan. Namun setelah 2 atau 3 hari rasa lapar itu berubah jadi nyeri. Dan pada hari ke-4 atau 5 nyeri yang mencemaskan itu sirna karena dinding perut anda menciut. Proses seperti ini akan terjadi berulang kali dalam situasi di mana makanan hanya datang sekali-sekali.

Pada tahap selanjutnya tubuh anda akan menyedot lapis-lapis lemak yang terbenam di bawah kulit. Berapa lama kira-kira lemak dalam tubuh anda habis tergantung dari berapa sehat anda sebelumnya. Di negara-negara makmur orang biasanya berusaha mencapai tahap ini dengan berolahraga; kita sebut ‘slimming,’ latihan untuk menurunkan berat badan. Jika anda seorang Afrika yang tubuhnya begitu ringkih oleh makanan yang tak bergizi dan parasit-parasit dalam usus selama bertahun-tahun, tahap ini mungkin berakhir dalam 3 minggu, atau mungkin 4. Tetapi jika pada saat itu anda mendapat pasokan sedikit saja makanan, tak soal seburuk apa kualitas suplai itu, maka proses dapat diperlambat sampai beberapa bulan.

Ketika akhirnya lemak pun habis sudah, tubuh anda akan mengambil persediaan dari otot-otot paha, pantat, dan lengan atas. Jadi sebenarnya untuk bertahan hidup anda mengunggis tubuh sendiri. Dan sebagai bentuk perlawanan terhadap perlakuan yang tak alami ini, tubuh anda lantas memberi peringatan dengan pelbagai cara. Lidah anda menjadi perih, sudut-sudut bibir anda mulai pecah-pecah, gusi anda mengeluarkan darah, atau tangan dan kaki anda membengkak. Begitu pula dengan perut anda; pada anak-anak, misalnya, diperburuk oleh parasit-parasit usus, akan menggelembung seperti balon.

Sampai tahap ini kelaparan mulai menyerang otak. Tubuh terasa begitu lelah untuk bekerja atau berusaha mencari makanan. Lagipula anda sudah tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Anda mudah jengkel, dan melampiaskannya tanpa kendali. Anda tak mampu berkonsentrasi. Anda sadar bahwa anda telah menjadi pribadi yang berbeda.

Saat ini, seandainya anda seorang perempuan, anda telah berhenti menstruasi. Tubuh anda tak dapat lagi bereproduksi. Tak berminat dengan sex. Bagi yang masih menyusui persediaan susu pada payudara tinggal sedikit.

Sekarang rambut anda menjadi kusam. Tipis dan banyak yang rontok. Kulit anda membelang. Orang bisa menghitung tulang rusuk anda bahkan dari jarak 9 meter. Otot-otot lengan atas anda mengecil hingga tinggal sebesar lengan bawah anda. Tubuh anda sungguh tinggal kulit membungkus tulang. Saat ini pikiran anda sudah melewati tahap iritasi – tak lagi mudah jengkel. Anda telah dikalahkan oleh kesedihan yang tak terkira. Mata anda nampak kosong; apati telah menjalari serat-serat dalam tubuh anda. Anda kehilangan minat pada apapun, bahkan pada bayi anda sendiri. Anda hanya duduk tak gerak di atas tanah, membiarkan bayi anda tergeletak sekarat di kaki anda.

Pekerja-pekerja sosial yang datang membantu nampaknya tidak memahami keadaan ini. Mereka terus berupaya memaksa anda untuk makan bubur susu yang mereka bawa. Mereka taruh sendok berisi makanan itu pada tangan anda, lalu menuntunnya ke mulut bayi itu. Tapi ketika mereka beralih ke penderita lain, sendok itu anda biarkan jatuh dari jari-jari anda. Bubur itu pun tertumpah di tanah dan lalat-lalat lapar segera mengerubungi. Tapi tak ada dalam pikiran anda niat untuk mengusir mereka. Bahkan anda tidak memperhatikan bahwa mereka telah merayap dan berputar-putar di sekitar mata dan wajah bayi anda, yang telah mengkerut seperti kakek-kakek atau nenek-nenek yang mungil. Anda hanya bisa duduk di sana dengan tatapan yang hampa. Seakan menatap jendela yang kusam. Anda mungkin tidak mati karena kekurangan gizi melainkan karena membuang makanan. Itu membuat suhu tubuh anda menurun dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi paling minor sekalipun. Kematian, ketika ia mampir, akan menjadi sebuah pembebasan yang membahagiakan. (Paul Vallely, 1985)

cerpen banget 2

Termangu Menatap Senja
Ia hanya bisa berharap, kalau suatu hari tunangannya pulang, amplop berisi senja itu dapat ia tunjukkan padanya.

Makan Kitab Ini

Sang Rasul memandang kitab itu cukup lama. Suara malaikat: Makanlah dia! Pelan-pelan ia memamahnya, mulai dari halaman pertama hingga akhir, habis tak bersisa. Lalu sambil menahan serdawanya, ia pun bertanya, “Baidewe, bisa nambah nggak ya?”

kamus mark

kawan-kawan mark tercinta,
berhubung mark baru saja belajar omong, kiranya bisa dimaklumi yah kalau terkadang kata-katanya agak sulit dipahami.

berikut ini adalah usaha kecil-kecilan menyusun kamus mark. kata-katanya dipilih berdasarkan keseringan pemakaian.

- afesh atau afaish: hi-5 (program tivi)
- ai ya: laptop mainan milik kakaknya. laptop itu kalau dibuka bisa bersuara: “hi, there.”
- bu-bu-bai atau bubai: super why (program tivi)
- ka: buka
- num-num-num: minum
- tetjem: thank you

semoga berguna.

wasalam.

What makes the clergy, professional then? Before replying to this question, we should firstly give an answer to the question, what makes a professional, professional? Although there is no single answer to it, various attempt to locate some key marks and their implications for professional ethics have been made. Noyce (1988) suggests that what makes a professional, professional is actually the promise that he or she has made to the public. By a promise-making act, a professional accepts his or her professional role. People may then expect certain commitment and competence from a professional. Some of those expectations can be found in the code of ethics of the professions. But all the discussions regarding various ethical dilemmas and their complexities should depart from these promises.

Now what does the clergy promise to the public? Noyce (1988) offers four promises every clergy makes to the public.

First, in the process of ordination, the clergy engages in a promise-making commitment to represent the universal church in practicing their profession. The clergy enters a covenant relationship in ordination which binds the ordaining church body and the clergy to a promise of competence and quality in ministry.

Second, through the ordaining process, the ecclesiastical body and the clergy enter a covenant promise to the public towards integrity in worship. While the clergy has some responsibility for experimentation, innovations and creative self-expression, the promise made at ordination is to uphold the traditions of the church in worship.

Third, the clergy enters a promise-making commitment to be competent in preaching and teaching ministry. Implicit in this promise is the commitment to continued study and reflecting the faith of the church with a view towards offering quality and effective performance of these duties.

Lastly, the clergy has the responsibility to reflect Jesus Christ’s compassion towards others. As the ambassador of Christ through the ministry of the Church, the clergy makes a promise to imitate and as much as possible embody something of the compassion of Jesus Christ.

In sum, the professional professes; he or she makes promises. In this regard, the clergy should at least know the answer to the question, what have I promised to the public?

Is it appropriate to see ministry as a profession? Some Christians believe that pastoral ministers are called of God, and therefore it is mistaken to treat them as professional. Others say, “If we ‘professionalize’ ministry, we reduce it to mere administrative work and pay no attention to its spiritual aspect. Ministry is unique; it cannot be compared to other professions.” I find all these beliefs, though not totally false, are at least partially true. My conviction is that pastoral ministry as a spiritual calling and pastoral ministry as a profession complement each other. Furthermore, regarding pastoral ministry as a profession only helps improve the quality of the practice of ministry; it does not bring any disadvantages to it. Along the similar vein, Richard Gula (1996) comments, “It seems to me that we have more to gain than to lose by qualifying pastoral ministry as a profession, by expecting pastoral ministers to act professionally, and by holding them accountable as professionals” (p. 11).

Besides, I am afraid that if we were to move apart pastoral ministry from professional requirements in every way, we would develop a bad attitude that having a religious calling exempts us from being held accountable to professional standards. With this attitude we are actually hiding behind the name of God to avoid fulfilling our moral responsibilities. We plead to be treated in a special way, whereas in fact we excuse for offering others low quality services or even malpractices.

Historically, the development of the professions shows that the words “profession” and “calling” were once closely connected (Wiest & Smith, 1990; Gula, 1996). But now it seems to have lost that connection. The word “profession” comes from Latin words, pro fateri, which meaning has to do with making a public statement. In the beginning, according to Gaylord Noyce (1988), the words were commonly used by monks and nuns for taking a vow upon joining their order.

The verb “to profess” also supports the idea. To profess means “to stand for something.” What we profess to be describes our basic commitment to the community we are joining in. Today, through the process of secularization, the term “profession” or “professional” no longer applies just to religious communities. Be that as it may, it continues to carry the idea of being driven by a commitment to providing care and serving the interests of others.

senyum-senyum

Putriku duduk tegak di kursi lab
Menunggu jarum suntik menembus kulitnya
Akhirnya, cus… darahnya mengalir masuk ke botol
Oh, my dear, she is smiling, kata penyedot darah itu.

Aku bertanya:
Kok kamu senyum-senyum sih, emang nggak sakit?

Nggak tuh.

Lalu ia menggigit jari manisnya sendiri
Mengunyahnya seperti sedang makan permen karet
Hingga tinggal separuh, Ia masih saja senyum-senyum.

Older Posts »