
Seorang wartawan British mengunjungi kamp penampungan di Ethiopia pada tahun 1985. Berikut reportasenya.
Inilah yang terjadi kalau anda menderita kelaparan sampai mati: pertama-tama anda merasa lapar dan ingin sekali makan. Namun setelah 2 atau 3 hari rasa lapar itu berubah jadi nyeri. Dan pada hari ke-4 atau 5 nyeri yang mencemaskan itu sirna karena dinding perut anda menciut. Proses seperti ini akan terjadi berulang kali dalam situasi di mana makanan hanya datang sekali-sekali.
Pada tahap selanjutnya tubuh anda akan menyedot lapis-lapis lemak yang terbenam di bawah kulit. Berapa lama kira-kira lemak dalam tubuh anda habis tergantung dari berapa sehat anda sebelumnya. Di negara-negara makmur orang biasanya berusaha mencapai tahap ini dengan berolahraga; kita sebut ‘slimming,’ latihan untuk menurunkan berat badan. Jika anda seorang Afrika yang tubuhnya begitu ringkih oleh makanan yang tak bergizi dan parasit-parasit dalam usus selama bertahun-tahun, tahap ini mungkin berakhir dalam 3 minggu, atau mungkin 4. Tetapi jika pada saat itu anda mendapat pasokan sedikit saja makanan, tak soal seburuk apa kualitas suplai itu, maka proses dapat diperlambat sampai beberapa bulan.
Ketika akhirnya lemak pun habis sudah, tubuh anda akan mengambil persediaan dari otot-otot paha, pantat, dan lengan atas. Jadi sebenarnya untuk bertahan hidup anda mengunggis tubuh sendiri. Dan sebagai bentuk perlawanan terhadap perlakuan yang tak alami ini, tubuh anda lantas memberi peringatan dengan pelbagai cara. Lidah anda menjadi perih, sudut-sudut bibir anda mulai pecah-pecah, gusi anda mengeluarkan darah, atau tangan dan kaki anda membengkak. Begitu pula dengan perut anda; pada anak-anak, misalnya, diperburuk oleh parasit-parasit usus, akan menggelembung seperti balon.
Sampai tahap ini kelaparan mulai menyerang otak. Tubuh terasa begitu lelah untuk bekerja atau berusaha mencari makanan. Lagipula anda sudah tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Anda mudah jengkel, dan melampiaskannya tanpa kendali. Anda tak mampu berkonsentrasi. Anda sadar bahwa anda telah menjadi pribadi yang berbeda.
Saat ini, seandainya anda seorang perempuan, anda telah berhenti menstruasi. Tubuh anda tak dapat lagi bereproduksi. Tak berminat dengan sex. Bagi yang masih menyusui persediaan susu pada payudara tinggal sedikit.
Sekarang rambut anda menjadi kusam. Tipis dan banyak yang rontok. Kulit anda membelang. Orang bisa menghitung tulang rusuk anda bahkan dari jarak 9 meter. Otot-otot lengan atas anda mengecil hingga tinggal sebesar lengan bawah anda. Tubuh anda sungguh tinggal kulit membungkus tulang. Saat ini pikiran anda sudah melewati tahap iritasi – tak lagi mudah jengkel. Anda telah dikalahkan oleh kesedihan yang tak terkira. Mata anda nampak kosong; apati telah menjalari serat-serat dalam tubuh anda. Anda kehilangan minat pada apapun, bahkan pada bayi anda sendiri. Anda hanya duduk tak gerak di atas tanah, membiarkan bayi anda tergeletak sekarat di kaki anda.
Pekerja-pekerja sosial yang datang membantu nampaknya tidak memahami keadaan ini. Mereka terus berupaya memaksa anda untuk makan bubur susu yang mereka bawa. Mereka taruh sendok berisi makanan itu pada tangan anda, lalu menuntunnya ke mulut bayi itu. Tapi ketika mereka beralih ke penderita lain, sendok itu anda biarkan jatuh dari jari-jari anda. Bubur itu pun tertumpah di tanah dan lalat-lalat lapar segera mengerubungi. Tapi tak ada dalam pikiran anda niat untuk mengusir mereka. Bahkan anda tidak memperhatikan bahwa mereka telah merayap dan berputar-putar di sekitar mata dan wajah bayi anda, yang telah mengkerut seperti kakek-kakek atau nenek-nenek yang mungil. Anda hanya bisa duduk di sana dengan tatapan yang hampa. Seakan menatap jendela yang kusam. Anda mungkin tidak mati karena kekurangan gizi melainkan karena membuang makanan. Itu membuat suhu tubuh anda menurun dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi paling minor sekalipun. Kematian, ketika ia mampir, akan menjadi sebuah pembebasan yang membahagiakan. (Paul Vallely, 1985)


