Dulu waktu gw masih di bangku SMP, ada guru namanya Ibu T yang sebentar-sebentar mendahak. Shroottt, lalu, ciuh… Untunglah ciuhnya di luar sana, di tong sampah. Tapi tetap aja nariknya itu di depan kita-kita. Gw mikir ini guru kok nggak malu-malu yak. Apa sebelumnya pernah merasa malu, tapi karena udah keseringan, maka malu pun sirna? pokoknya, ia kita gosipin deh.
Sekarang gw – sebenarnya sudah beberapa hari ini – lagi menderita pilek dan batuk berdahak. Gw juga sebentar-sebentar mendahak seperti Ibu T. Kalau dipikir-pikir memang tindakan tersebut menjijikkan. Tapi apa boleh buat, I have no choice. Dibuang sekali nggak akan cukup. Lender-lendir itu bakalan muncul lagi, muncul lagi, seakan berproduksi tanpa henti. Masa mau ditelan aja lender-lendir itu? Apa, kalau begitu, nggak lebih menjijikkan? Gw sih memilih mengeluarkannya.
Hikmah: Makanya, jadi orang jangan cepat-cepat kita omongin keburukan orang lain. Diet-lah berkata-kata hingga kita cukup arif untuk bisa memahaminya. Blessings in the Lord.


